Dari Saraswati Hingga Pagerwesi, CERDAS DAN SEJAHTERA LEWAT ILMU PENGETAHUAN

Dari Saraswati Hingga Pagerwesi
CERDAS DAN SEJAHTERA LEWAT ILMU PENGETAHUAN

Setelah Sabtu (27/2) kemarin umat Hindu merayakan hari Raya Saraswati, Minggu (28/2) pagi ini umat melanjutkan dengan prosesi Banyupinaruh, kemudian menyusul perayaan Soma Ribek, Sabuh Mas, dan hari Raya Pagerwesi. Apa sesungguhnya nilai filosofi yang terkandum dalam hari raya keagamaan hindu tersebut?

Setelah Ilmu pengetahuan diturunkan saat hari Raya Saraswati, keesokan harinya Minggu Paing Wuku Sinta, umat melaksanakan proses Banyupinaruh. Dalam Praktiknya saat Banyupinaruh umat mendatangi sumber-sumber air untuk menyucikan diri-membersihkan badan dan berkeramas.

Tetapi sesungguhnya kata Ketut  PHDI Bali Dr.IGN Ngurah Sudiana, M.Si., prosesi Banyupinaruh merupakan simbul untuk melebur atau membersihkan kebodohan , kegelapan, dan dosa (kekotoran) dengan air Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuanlah Kegelapan bisa diterangi

Dalam konteks itu ada pesan nilai yang penting dimakanai bahwa umat mesti menggapai Ilmu Pengetahuan setinggi-tingginya. Sebab dengan ilmu pengetahuanlah hidup Manusia bisa diantar kearah yang lebih baik dan sempurna. Jadi proses Banyupinaruh merupakan simbol pembersihan kebodohan dengan kecerdasan yang diperoleh melalui Ilmu Pengetahuan.

Selanjutnya pada Senin Pon wuku sinta, umat merayakan rerahinan Soma Ribek. Soma Ribek diyakini sebagai hari turunnya kemakmuran. Itu mengandung makna bahwa untuk bisa mencapai kemakmuran umat mesti meningkatkan kualitas dirinya. Melalui Ilmu Pengetahuan yang bersifat keduniawianlah umat bisa meningkatkan kualitas diri yakni mencapai kepintaran atau kecerdasan, dan dengan Ilmu kerohanian atau spiritual umat diantarkan menjadi insan yang lebih bijaksana. Sehingga menjadi SDM yang  cerdas dan bijaksana. Karena diyakini sebagai hari turunnya kemakmuran, maka pada saat Soma Ribek ada umat mulai menabung yang pada zaman dulu umumnya lewat celengan dengan harapan sisihan uang belanja itu lama-lama menjadi banyak.

Sementara keesokan harinya dikenal dengan rerahinan Sabuh Mas. Sabuh Mas juga diyakini sebagai hari turunnya kemakmuran dalam bentuk materi. Itu juga mengandung makna bahwa matari bisa diraih tatkala umat memiliki bekal pengetahuan dan ketrampilan yang cukup. Karena itu dalam perayaan Sabuh Mas umat kembali diingatkan agar tetap mengasah ketajaman pikiran dengan Ilmu Pengetahuan dan ketrampilan. Dengan pikiran yang cerdas umat mampu menuju perahu kebahagiaan.

Setelah Sabuh Mas, umat merayakan hari Raya Pagerwesi yang jatuh pada Rabu Klion Sinta. Hari Raya keagamaan itu mengandung nilai filosofi tinggi bahwa dalam menghadapi kehidupan senjata yang paling utama untuk melindungi diri adalah Ilmu Pengetahuan. Ilmu yang kita peroleh lewat belajar di bangku sekolah formal maupun nonformal adalah pagar yang kuat untuk melindunggi diri. Dalam bahasa yang sederhana adalah dengan kecerdasan yang dimiliki, umat mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, membantu diri terhindar dari kemelaratan, kebodohan, dan sebagainya

Jadi, perayaan semua itu mengandung pesan bahwa kepada Ilmu Pengetahuanlah hendaknya kita berguru. Ilmu Pengetahuan yang disimbolkan Dewi canti Saraswati hendaknya dipakai mencerdaskan atau mempertajam pikiran dan menghaluskan budi. “Tetapi Ilmu Pengetahuan jangan sampai disalahgunakan  untuk tujuan negatif”, ujarnya.

Hal senada dikatakan dosen IHDN Denpasar Drs. Ketut Wiana, M.Ag. bahwa Banyupinaruh mengandung pengertian sebagai air Ilmu Pengetahuan. Ilmu Pengetahuan tersebut mesti diaplisasikan atau dibumikan. Sementara Somo Ribek mengandung makna bahwa penguasaan Ilmu mesti tuntas, biar kita memiliki pengetahuan yang sempurna atau penuh. Pengetahuan yang kita miliki mesti digunakan untuk memperbaiki diri atau disimpan kedalam (Sabuh Mas), kemudian diberikan atau diabdikan untuk kepentingan orang lain (Pagerwesi). Pagerwesi pinaka payogan Sang Hyang Pramesti Guru.

Dalam pengertian bahwa Ilmu yang sudah kita kuasai penuh perlu diberikan kepada orang lain atau diabdikan untuk kepentingan Masyarakat. Ilmu yang kita peroleh mesti digunakan untuk menyejahterakan Masyarakat, bukan untuk hal-hal negatif.

Sumber: Bali Post, 27 Februari 2010